Ad
Ad
Ad
Category

Investasi Aset Keuangan

Category

Ada beberapa prinsip investasi yang sangat mendasar yang patut diketahui dan dipertimbangkan ketika hendak melakukan sebuah investasi. Baik itu investasi dalam saham, tabungan, obligasi maupun membuka usaha. Berikut ini prinsip-prinsip dari investasi yang perlu diketahui :

  • Risiko investasi
  • Tingkat inflasi
  • Keterlibatan pribadi dan modal yang diperlukan
  • Tingkat pengembalian hasil
  • Jangka waktu pengembalian
  • Likuiditas
  • Teori portofolio

Prinsip Investasi

Prinsip Investasi

Prinsip investasi ini akan dijelaskan satu per satu di bawah ini. Kecuali risiko investasi dan tingkat inflasi yang akan dibahas di artikel selanjutnya.

a. Keterlibatan Pribadi dan Modal yang Diperlukan

Ini merupakan prinsip investasi yang pertama. Jika ada dua jenis investasi yang nilai investasinya sama, memberikan hasil yang sama, di mana yang pertama menuntut tanggung jawab dan keterlibatan Anda secara penuh dan kontinyu sedangkan yang satunya lagi tidak, maka sangat dianjurkan untuk memilih jenis investasi yang kedua.

Katakanlah Anda memiliki pengetahuan yang cukup tentang dunia komputer. Suatu hari seorang teman menawari Anda kerjasama investasi untuk membuka bisnis komputer dan satunya lagi bisnis jasa travel. Modal yang dibutuhkan dari Anda untuk kedua jenis investasi ini adalah sama, yakni Rp 100 juta. Tingkat keuntungan bersih yang dijanjikan yang bakal Anda terima untuk kedua jenis investasi tersebut adalah sama, yakni Rp 10 juta per bulan.

Hanya satu permintaan dari teman Anda tersebut, yaitu jika Anda memilih investasi bidang komputer diharapkan partisipasi Anda dalam usaha tersebut secara penuh. Alasan dia, karena Anda mahir tentang komputer. Tetapi jika Anda memilih jasa travel, keterlibatan Anda tidaklah mutlak diperlukan.

Dapat dipastikan bahwa Anda akan memilih bisnis jasa travel. Alasannya, selain karena modal investasi yang diperlukan sama, keuntungannya sama, ternyata Anda tidak perlu turun tangan sehingga Anda bisa melakukan kegiatan (usaha) lainnya yang tentunya akan menambah pendapatan Anda. Inilah yang dimaksud dengan prinsip investasi keterlibatan pribadi.

Modal Dasar Prinsip Ekonomi

Sedangkan mengenai modal didasarkan atas prinsip ekonomi, yakni dengan modal sekecil-kecilnya untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Kita ambil contoh sebelumnya. Anda dipastikan ikut bergabung bisnis jasa travel dan mulai mengkalkulasi keuangan pribadi. Ternyata dana segar yang Anda miliki sekitar Rp 125 juta.

Kebutuhan mendesak Anda, yakni untuk kontrak rumah, biaya hidup sehari-hari, dan lainnya sebesar Rp 50 juta rupiah. Setelah dikurangi, dana Anda hanya tinggal Rp 75 juta. Masih kurang Rp 25 juta untuk investasi tersebut.

Anda mulai berpikir apakah kekurangan tersebut akan ditutup dengan pinjaman atau mencairkan deposito. Ada kabar baik, saudara dekat Anda rela meminjamkan uang tersebut tanpa bunga dan masa pembayarannya bebas. Pada saat yang sama ternyata ada tawaran investasi lain, yakni membuka usaha catering. Dengan modal yang hanya Rp 70 juta, tingkat keuntungan yang dijanjikan Rp 10 juta per bulan.

Karena tingkat keuntungan (rate of return) yang dijanjikan adalah sama maka dapat dipastikan Anda akan berubah pikiran. Yaitu untuk memilih catering meski sedikit kalah gengsi dibandingkan travel. Selain itu dana segar Anda akan tersisa Rp 5 juta. Namun demikian orang lain mungkin akan memilih bisnis travel. Selain alasan gengsi, bisa jadi pinjaman saudara tersebut tidak perlu mereka bayar atau dananya lebih besar dari dana yang Anda miliki.

Di sini terlihat bahwa seringkali investasi itu sangat ditentukan oleh banyak factor (prinsip investasi). Seperti keuangan pribadi, selera, kepentingan, keahlian dan sebagainya, yang tentunya berbeda untuk setiap orang.

Hindari Hutang

Bagaimana kalau seandainya keuntungan catering hanya Rp 9 juta per bulan? Apakah Anda tetap akan memilih catering atau lebih suka travel? Meski rate of return-nya lebih kecil, tetapi Anda tidak perlu berhutang (meminjam) maka tetap dianjurkan untuk memilih catering. Jika memilih travel, berarti Anda memiliki hutang Rp 25 juta yang tentu tetap harus dilunasi.

Perhitungannya menjadi lebih serius jika ternyata dalam sebuah pinjaman, Anda dikenai bunga. Bagaimana kalau ternyata bisnis travel gagal? Anda memiliki hutang. Tetapi jika bisnis catering gagal, Anda tidak memiliki hutang. Jadi pada dasarnya Anda harus punya prinsip investasi yaitu berinvestasilah sesuai dengan kantong. Usahakan menghindari pinjaman atau hutang meski persyaratannya mudah.

b. Tingkat Pengembalian Hasil

Prinsip investasi selanjutnya yaitu tingkat pengembalian hasil. Setiap bentuk investasi yang baik selalu memberikan hasil atau keuntungan. Biasanya dinyatakan dalam hitungan persen per tahun. Perhitungan seperti inilah yang sering disebut dengan tingkat pengembalian hasil atau rate of return. Cara perhitungannya pun cukup sederhana.

Kasus 1

Contoh kasus prinsip investasi tingkat pengembalian hasil. Anda mendepositokan uang Anda sebesar Rp 10 juta selama setahun. Pada akhir tahun tersebut ternyata uang Anda telah bertambah menjadi Rp 11 juta. Ini artinya rate of return dari deposito tersebut adalah 10% (Rp 1 juta). Perhitungannya adalah bunga deposito yang diterima dibagi modal awal dikalikan 100%. (1 juta/ 10 juta x 100%).

Katakanlah uang Rp 10 juta tadi tidak jadi Anda depositokan, melainkan diinvestasikan ke dalam usaha rekan Anda dalam bisnis ikan hias. Setiap bulan Anda menerima pembagian keuntungan Rp 200 ribu. Berapakah rate of return investasi ikan hias ini bagi Anda secara pribadi? Karena keuntungan yang Anda terima dalam hitungan bulanan maka perlu dikalikan 12 (12 x Rp 200 ribu/10 juta x 100% = 24%). Jadi tingkat pengembalian hasil investasi Anda adalah 24% atau Rp 2,4 juta per tahun. Lebih tinggi dari deposito bukan?

Terkadang memang kurang tepat membandingkan rate of return sebuah sarana investasi dengan yang lainnya dengan cara demikian. Alasannya, di samping karena risiko tiap investasi berbeda, juga ditentukan oleh besarnya dana yang diinvestasikan, pendapatan yang diterima dan nilai sisa asset yang bisa jadi masih ada.

Contoh Kasus 2

Contoh lain kasus prinsip investasi tingkat pengembalian hasil. Anda membeli 1 lot saham dengan harga tiap lembar sahamnya Rp 10.000. Dana yang Anda keluarkan adalah Rp 5 juta (500 x Rp 10.000). Setelah dua tahun Anda menjualnya dengan harga Rp 12.000 / lembar saham. Di samping itu Anda telah menerima deviden untuk tiap lembar saham yang Anda miliki sebesar Rp 1.000. Berapakah rate of return dari saham tersebut?

Harga jual yang Anda peroleh adalah Rp 6 juta (12.000 x 500). Besarnya deviden yang telah Anda terima adalah Rp 500 ribu (1.000 x 500). Rate of return saham tersebut adalah 30% per dua tahun [(6.000.000 – 5.000.000 + 500.000)/5.000.000 x 100%]. Berhubung jangka waktunya adalah dua tahun maka perlu distandarkan menjadi satu tahun (30% dibagi 2 menjadi 15%). Jadi rate of return saham tersebut adalah 15% per tahun.

Di sini terlihat bahwa perhitungan rate or return sebuah investasi dipengaruhi oleh poin penerimaan lainnya, seperti bunga atau deviden (kalau ada). Caranya adalah dengan dijumlahkan sebelum dibagi dengan modal awal. Begitu juga dengan nilai sisa asset jika masih ada.

Dalam prinsip investasi, semakin tinggi tingkat pengembalian hasil sebuah investasi maka semakin baik untuk dipilih. Meskipun demikian harus diperhatikan juga modal awal yang diinvestasikan. Jika modal investasinya sama maka pilihlah investasi yang rate of return-nya tinggi. Satu hal lagi, tidak cukup bila hanya melihat tingginya pengembalian hasil sebuah investasi, melainkan harus juga membandingkannya dengan pengembalian hasil dari investasi yang sejenis.

Jika untuk usaha dagang makanan rata-rata orang mendapatkan keuntungan 50% sedangkan Anda 40% maka investasi Anda tersebut belum maksimal pengembalian hasilnya. Untuk mengetahui hasil yang paling maksimal, bandingkanlah dengan perusahaan-perusahaan (investasi) yang menjadi semacam standar atau benchmark.

c. Jangka Waktu Pengembalian

Prinsip investasi berikutnya yaitu tingkat pengembalian hasil. Jangka waktu pengembalian hasil sebuah investasi sering disebut dengan istilah payback period. Artinya, seberapa cepat sebuah investasi akan kembali hasil (return on investment). Semakin cepat sebuah investasi kembali hasilnya maka semakin baik untuk diinvestasikan.

Jangka waktu pengembalian hasil sebuah investasi juga ditentukan oleh tujuan investasi itu sendiri, apakah investasi jangka pendek atau jangka panjang. Bagi investor, hal ini bisa berbeda. Meski return on investment sebuah investasi membutuhkan waktu lama, bagi mereka yang memiliki tujuan jangka panjang, justru itu yang diinginkan dan yang paling baik. Bisa jadi investasi tersebut berfungsi sebagai tabungan, pensiun atau asuransi di kemudian hari.

Untuk memahami payback period prinsip investasi ini kita ambil sebuah contoh. Anda ditawari dua buah investasi. Yang satu properti dan satunya lagi tambak udang. Modal untuk properti Rp 2 milyar dengan rate of return 20% per tahun. Sedangkan tambak udang modalnya Rp 500 juta dan rate of returnnya 15% per tahun. Investasi manakah yang bakal Anda pilih dihitung dari payback period-nya?

Untuk properti, payback period-nya adalah 5 tahun [2 milyar/ (20% x 2 milyar)], di mana setiap tahunnya investasi yang kembali adalah Rp 400 juta. Kalau Anda memilih properti berarti uang Anda akan kembali dalam jangka waktu 5 tahun dan tahun-tahun berikutnya adalah keuntungan bersih Anda. Seandainya Anda memilih investasi tambak udang maka modal Anda akan kembali dalam jangka waktu 6 tahun 8 bulan. Perhitungannya, Rp 500 juta dibagi 15% x Rp 500 juta, di mana hasilnya setiap tahun modal yang kembali Rp 75 juta.

Setelah dibagi 12 bulan, ini berarti setiap bulan investasi yang kembali adalah 6,25 juta. Dari contoh ini terlihat bahwa investasi properti lebih baik dibandingkan tambak udang jika diukur dari payback period. Jadi jangan pernah merasa takut untuk menginvestasikan modal yang lebih besar jika memang hasil investasinya lebih cepat kembali. Bukankah pepatah Tiongkok berkata, “Untuk mendapatkan ikan yang lebih besar maka kita perlu menggunakan umpan yang lebih besar?”

d. Likuiditas

Prinsip investasi selanjutnya adalah tingkat likuiditas. Dalam berinvestasi terkadang investor memperhitungkan juga tingkat likuiditas dari investasi yang mereka tanamkan. Semakin likuid maka semakin baik. Alasannya, dalam dunia yang tidak menentu dan kondisi sosial politik negara yang labil, segala sesuatu yang paling buruk dapat terjadi.

Kita juga tidak tahu kapan ketegangan politik itu berakhir atau bakal memuncak. Tak heran para investor akan melihat dulu keadaan politik dan keamanan sebuah negeri sebelum menanamkan modal mereka di negeri tersebut. Karena itu, seperti yang kita baca di media massa, di mana para analis ekonomi mengharapkan elite politik untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang negatif (yang tidak kondusif bagi perekonomian). Memang antara politik dan ekonomi adalah saudara dekat yang sulit dipisahkan.

Aksi chaos seperti tragedi Mei 1998 yang lalu, yang disertai penjarahan, pemerkosaan, pembakaran dan segala tindakan anarkhi lainnya, bukan saja mematikan sendi-sendi perekonomian, melainkan juga membuat orang menjadi takut akan jaminan kepastian yang ada. Orang-orang berusaha menghindar dari aksi massa dengan mengunci rumah dengan timbunan makanan yang banyak, keluar kota, bahkan ke luar negeri. Semua toko dan perkantoran tutup.

Bank-bank tidak beroperasi, begitu juga jaringan ATM yang ada. Uang pun rasanya seperti tidak ada nilai pada saat seperti itu, padahal uang adalah asset paling likuid. Masyarakat lebih percaya akan dollar dibandingkan rupiah karena dollar diterima di semua negara. Jika uang saja sulit untuk dipergunakan, bagaimana dalam prinsip investasi lainnya yang tingkat likuiditasnya lebih rendah?

Arti Likuiditas

Likuiditas dapat diartikan sebagai tingkat kecepatan sebuah sarana investasi (asset) untuk dicairkan menjadi dana cash (uang) atau ditukar dengan sesuatu nilai. Uang kontan tingkat likuiditasnya paling tinggi karena diterima semua orang dan dapat ditukar dengan sesuatu di mana saja, saat itu juga.

Tabungan tentu lebih likuid dari deposito karena tabungan bisa dicairkan saat itu juga, dibandingkan deposito yang membutuhkan waktu lebih lama. Deposito tentu lebih likuid dibandingkan dengan saham karena saham perlu waktu settlement (T+4). Begitu seterusnya.

Likuiditas dipertimbangkan untuk menghindar dari risiko-risiko fatal seperti bencana alam, kudeta, perang saudara, aksi massa, dan sebagainya. Semakin likuid investasi Anda maka semakin cepat bagi Anda untuk mencairkannya dan mentransfernya ke luar negeri. Investasi Anda akan tetap aman.

Meskipun saham cukup likuid, namun jika Anda menggunakan jasa pialang, usahakan untuk memilih pialang yang likuiditasnya tinggi. Artinya, jika Anda membutuhkan uang dan ingin melepas saham tersebut, Anda tidak perlu menempuh jalur birokrasi yang panjang, lama, dengan persyaratan macam-macam dan kelihatannya dibuat-buat.

e. Teori Portofolio

Don’t put all your eggs in one basket. Jangan pernah menempatkan seluruh dana yang kita miliki ke dalam satu jenis investasi (prinsip investasi). Hal ini untuk mencegah agar kita tidak mengalami kerugian besar jika ternyata investasi tersebut gagal. Pecah-pecahkanlah dana tersebut ke dalam berbagai jenis investasi, misalnya 50% untuk membuka usaha, 30% untuk bermain saham dan sisanya 20% untuk deposito. Kalau ternyata usaha tersebut gagal toh masih ada deposito dan saham.

Prinsip investasi teori portofolio, selain untuk menghindari (meminimalkan) risiko, juga untuk memaksimalkan hasil. Sebab tidak pada semua jenis investasi keuntungannya akan meningkat bilamana kita menambahkan modal. Lebih baik modal tersebut kita investasikan ke jenis investasi lainnya.

Contohnya dari prinsip investasi ini begini: Anda membuka bengkel mobil di lingkungan kompleks perumahan dan menghabiskan modal Rp 100 juta. Kompleks tersebut hanya memiliki 40 unit mobil yang adalah customer setia Anda. Anda tidak bisa berharap dengan menyuntikkan tambahan dana Rp 100 juta lagi maka penghasilan (omset) Anda akan naik karena jumlah mobil yang ada tidak bertambah, yakni tetap 40 unit. Lebih baik uang tersebut diinvestasikan ke investasi lain.

Dalam dunia perdagangan saham juga demikian. Jangan menggunakan seluruh uang yang Anda miliki untuk membeli satu jenis saham. Belilah berbagai jenis saham untuk memaksimalkan hasil atau meminimalkan risiko. Para manajer investasi dikenal sangat ahli dalam hal ini karena mereka telah dididik dan dilatih untuk pekerjaan seperti itu.

Selain itu mereka sangat dekat dengan sumber informasi dan mereka mengetahui semua informasi mengenai berbagai jenis bentuk investasi. Katakanlah saham, obligasi, dana pensiun, reksadana, asuransi, dan sebagainya. Selain itu mereka sangat selektif dan berhati-hati dengan investasi yang mereka kelola.

Prinsip investasi ini juga bermanfaat dalam bisnis dan investasi properti

Demikian informasi berkaitan dengan prinsip investasi yang perlu diketahui, semoga artikel ini membantu Anda. Mohon artikel investasi ini dibagikan supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi :