Ad
Ad
Ad
Category

Investasi Saham

Category

Pembahasan kita kali ini yaitu tujuan memegang uang dalam jumlah tertentu. Hanya ada 2 tujuan yang sebenarnya dalam setiap bentuk investasi. Pertama, bagaimana caranya untuk meningkatkan keuntungan dan yang kedua adalah bagaimana caranya menurunkan biaya.

Tujuan Memegang Uang

Prinsip Pelaku Bisnis

Sebelum mengetahui tujuan memegang uang, berikut analogi terkait. Katakanlah saat ini Anda mempunyai uang sebesar 500 juta rupiah, kira-kira apa yang akan dilakukan dengan uang sebanyak itu? Mungkin uang tersebut akan Anda belanjakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Selain itu Anda akan mentraktir beberapa rekan dekat makan-makan sepuasnya di restoran Chinesefood.

Sebagian lagi mungkin akan Anda belanjakan untuk asset-asset berharga. Seperti mobil, rumah, perhiasan, handphone dan sebagian lagi mungkin akan Anda simpan di bank dalam bentuk tabungan atau deposito. Kalau ternyata masih ada sisa, mungkin akan Anda gunakan untuk modal membuka usaha.

Tahukah Anda!! Sebenarnya apa yang sudah Anda lakukan di atas dengan membagi uang tersebut merupakan bentuk dasar dari sebuah teori portofolio? Hanya saja di sini tujuan memegang uang Anda tidak terlalu mengharapkan adanya keuntungan (rate of return). Dan juga tidak memikirkan prinsip memaksimalkan nilai atau meminimalkan risiko.

Bagi Anda, dengan adanya alokasi dana yang sedemikian, Anda akan merasa sudah berbuat maksimal dan kepuasan hidup sudah terjamin. Pola piker dari banyak orang yang sangat sederhana, konvensional dan tidaklah salah.

Tujuan Memegang Uang

Menurut Keynes, bila seseorang punya atau memegang uang dalam jumlah tertentu maka akan ada 3 kemungkinan. Kemungkinan yang berkaitan dengan tujuan memegang uang dari seseorang. Uang tersebut akan dipergunakan untuk tujuan transaksi, saving atau tujuan spekulasi.

a. Tujuan Transaksi

Tujuan memegang uang yang pertama adalah tujuan transaksi. Saat kita memakai uang baik dalam bentuk apa pun. Dan uang tersebut ditukarkan untuk mendapatkan sebuah produk baik barang ataupun jasa. Maka saat itu juga dikatakan kita sudah menggunakan uang tersebut untuk tujuan transaksi.

Contoh yang paling sederhana ialah saat kita membeli makanan dan minuman, perabot rumah tangga, membayar iuran bulanan, dan sebagainya. Intinya ialah uang yang kita punya sudah berpindah tangan ke pihak lain. Dan kita akan memperoleh kepuasan atas apa yang diberikan oleh pihak lain tersebut.

Kita akan terdorong untuk melakukan banyak transaksi. Kalau kita merasa yakin bahwa apa yang dibayarkan itu nilainya seimbang atau lebih kecil dari apa yang bakal diterima. Kalau kita masih merasa ragu tentunya transaksi tersebut akan ditunda hingga tiba waktu yang tepat di masa yang akan datang.

Tujuan memegang uang untuk transaksi berkaitan erat dengan sasaran jangka pendek, bahkan instant (saat itu juga). Pada saat harga barang-barang jadi lebih murah dari biasanya maka akan ada banyak terjadi transaksi.

Di satu sisi, transaksi yang sering terjadi akan membuat harga naik lagi sampai mencapai keadaan normal (sebelum terjadinya penurunan). Bahkan harga cenderung naik melebihi keadaan normal. Inilah yang sering dinamakan dengan hukum permintaan dan penawaran dalam studi ekonomi yang kebenarannya sangat nyata sekali dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi pelaku-pelaku bisnis, termasuk juga di dunia perdagangan saham, gejala-gejala seperti itu harus diperhatikan. Harga sebuah saham akan naik tajam kalau diminati atau dibikin seolah-olah diminati oleh banyak investor. Dan salah satu tugas kita ialah bagaimana caranya untuk membuat dan meyakinkan para investor. Hal ini agar mereka meminati sebuah saham dan mengetahui alasan kenapa mereka meminati saham tersebut.

b. Tujuan Saving

Tujuan memegang uang yang kedua adalah tujuan saving. Tujuan saving berarti menempatkan uang untuk disimpan buat berjaga-jaga. Yaitu berjaga-jaga untuk kebutuhan mendesak yang sangat memerlukan uang di masa yang akan dating. Misalnya sakit, menikah, kecelakaan atau bisa pula untuk mencapai sasaran jangka panjang yang tak bisa dipenuhi saat ini.

Katakanlah untuk membeli barang yang harganya sangat mahal sehingga harus menabung terlebih dahulu. Masyarakat ketika memegang uang akan banyak melakukan tujuan saving kalau peramalan mereka akan masa depan tidaklah menentu (unforecast). Makin tak menentunya masa yang akan datang maka akan semakin tinggi persentase saving yang dialokasikan.

Banyak orang beranggapan bahwa saving hanya bisa dilakukan kalau kebutuhan hidup sudah terpenuhi secara baik dan masih ada kelebihan dana. “Jangankan untung menabung, buat makan saja susah”, atau, “Dengan gaji hanya segini gimana bisa untuk menabung?” Begitulah seringkali orang memberi alasan. Kenyataannya dengan bertambahnya income seringkali bertambah juga kebutuhan yang berujung naiknya pengeluaran.

Sebelum punya mobil kita tidak perlu pusing memikirkan biaya perawatan, bensin, dan lain sebagainya. Tapi setelah punya tambahan uang untuk beli mobil, kita perlu tambahan biaya pengeluaran atas kepemilikan mobil tersebut. Oleh sebab itu sebenarnya berapapun penghasilan yang dimiliki, kita perlu mengalokasikan sebagian income untuk saving. Hal ini untuk menghindarkan dari hutang yang menjerat di suatu saat yang tidak dapat kita perkirakan.

Di samping sangat disarankan pemerintah dan penasihat keuangan, tujuan memegang uang untuk saving ternyata sangat berperan dalam perekonomian sebuah negara. Bisa dibayangkan bila sebuah negara masyarakatnya tidak pernah menabung. Otomatis uang yang dimilikinya cenderung untuk dibelanjakan. Hal ini yang akhirnya akan meningkatkan permintaan atas produk dan bisa berakibat pada inflasi (kenaikan harga).

Selain itu lembaga keuangan seperti bank akan kekurangan modal yang bisa disalurkan. Ini menyebabkan perusahaan-perusahaan yang ada akan meminjam ke luar negeri, yang berakibat hutang makin besar. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Barangkali kita sedikit berperan dalam hutang yang makin besar itu.

c. Tujuan Spekulasi

Tujuan memegang uang yang ketiga adalah tujuan spekulasi. Selain menempatkan dana dalam bentuk transaksi dan saving, orang-orang pun menempatkan dana dalam bentuk spekulasi. Artinya dana tersebut diinvestasikan dengan harapan akan berkembang dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi. Misalnya digunakan untuk membuka usaha, berjudi, bermain saham, valuta asing dan lain sebagainya.

Masyarakat akan suka berspekulasi bila mereka yakin akan berhasil atau menang dan uangnya akan kembali berkali-kali lipat. Keyakinan ini merupakan sesuatu yang wajar dan memang harus demikian. Jangan pernah melakukan spekulasi bila tak yakin akan memenangkannya.

Bisnis ibarat perang. Meskipun kita yakin akan menang tapi belum tentu menang. Kita berhadapan dengan banyak pesaing, yakni orang-orang yang sama seperti kita yang juga mengharapkan kemenangan. Persaingan ini menuntut banyak strategi. Apakah itu bernain saham, membuka usaha, bermain judi, dan lain sebagainya, strategi sangat dibutukan. Tidak heran buku-buku klasik mengenai strategi bersaing dan perang seperti The Art of War karya Sun Tzu sangat disarankan untuk dimengerti.

Di zaman yang semakin maju dan kompleks, seringkali tujuan transaksi, saving dan spekulasi membaur jadi satu dan sangat susah dipisahkan. Tabungan bank yang pada mulanya merupakan saving namun dengan adanya pergerakan suku bunga, membuatnya jadi sarana spekulasi.

Komputer yang kita beli untuk dipakai sehari-hari ternyata bisa juga digunakan untuk usaha jasa pengetikan yang bersifat spekulasi. Membeli dan membayar premi asuransi merupakan tindakan transaksi yang sekaligus mengandung tujuan saving untuk masa yang akan datang. Ternyata di pasar ada pula asuransi yang dapat dialihkan atau dipindahtangankan yang membuatnya jadi sarana spekulasi.

Investasi terbaik untuk masa depan sebagai alternatif tujuan memegang uang

Demikian informasi perihal tujuan memegang uang dalam jumlah tertentu, kami harap post kali ini membantu kawan-kawan semua. Mohon post motif memegang uang ini dibagikan biar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi: