Ad
Ad
Ad
Category

Logam Mulia

Category

Pembahasan kita sekarang ialah uang dan logam emas serta sejarahnya. Barangkali manusia adalah salah satu makhluk di muka bumi yang lemah. Manusia tidak punya taring dan kuku yang tajam. Manusia juga tidak memiliki bisa dan racun yang mematikan. Jangankan untuk berlari cepat dan memanjat dengan tangkas, berjalan tanpa alas kaki saja sering kali menyulitkan. Namun, dengan otak dan tangan yang dimiliki, manusia menjadi penguasa di muka bumi mengalahkan makhluk-makhluk hidup lainnya.

Uang dan Logam Emas

Uang dan Logam Emas serta Sejarahnya

Kata kunci dari kehebatan manusia adalah produktivitas. Manusia bisa menangkap ikan dengan hanya menggunakan dua telapak tangan. Namun manusia lebih memilih menggunakan otak dan tangannya untuk membuat kail dan jala. Dengan kail dan jala produktivitas manusia dalam menangkap ikan menjadi lebih tinggi daripada bila hanya menggunakan dua tangan.

Manusia juga merupakan makhluk yang hidup berkelompok membentuk koloni saling tergantung satu sama lain, termasuk dalam bidang ekonomi. Manusia tidak mungkin memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri melainkan lebih efektif bila berfokus pada keahlian masing-masing. Lagi-lagi, kolonisasi tersebut dilakukan agar manusia bisa menjadi lebih produktif.

Sebagai contoh, pandai besi membuat cangkul untuk petani. Sementara petani menghasilkan beras dan sayuran yang akan dikonsumsi oleh pandai besi Di sisi lain tukang batu juga mendapat suplai bahan makanan dari petani dan alat-alat pertukangan dari pandai besi.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Sebagai timbal baliknya tukang batu membuatkan rumah bagi petani maupun pandai besi. Seiring berjalannya waktu, makin lama hubungan dan jejaring yang terjadi semakin kompleks. Manusia menjadi kian terspesialisasi demi mengejar produktivitas hidup yang lebih baik.

Dalam konektivitas yang terbentuk tersebut terjadi mekanisme perpindahan barang dan jasa yang disebut dengan barter. Pasar yang merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual terbentuk secara otomatis. Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, barter tumbuh dan berkembang hingga melahirkan penemuan baru yang disebut dengan uang. Bangsa China kuno menggunakan alat pertanian sebagai alat tukar.

Bangsa Inggris pernah menggunakan miniatur pedang yang lebih tepat disebut perhiasan-berbahan perunggu sebagai uang. Namun dalam perkembangannya, bangsa Inggris kemudian menyederhanakan bentuk pedang yang rumit tersebut menjadi kepingan bulat. Konon, koin metal semacam itu sudah ada sejak abad ke-2 SM.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Penemuan Uang

Seperti halnya bagaimana manusia menemukan sandang dan pangan, uang ditemukan secara alamiah. Tidak ada satu orang pun yang diklaim telah menemukan uang. Kendati demikian, uang merupakan salah satu penemuan terakbar. Karena uang memungkinkan manusia melakukan lompatan kuantum (quantum leap) dengan

  • menghasilkan modal (generate capital),
  • melakukan spesialisasi yang lebih baik,
  • menjalin koneksi perdagangan, maupun
  • membuat perjanjian kontrak.

Pendek kata, uang menjadikan produktivitas manusia jauh lebih baik dari sebelumnya.

Menurut sejarahnya, peradaban manusia pemah mencoba menggunakan hampir setiap benda untuk dijadikan uang. Sebut saja garam, kerang, ikat pinggang, batu beroda, tembakau, dan sebagainya. Jerman pasca-Perang Dunia II pemah menggunakan rokok (sigaret) sebagai alat tukar karena reichmark nilainya praktis tidak ada.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Di Italia, konon permen menjadi alat tukar untuk bilangan yang tidak terlalu besar sebagai dampak inflasi besar tahun 1970-an. Sejak dulu manusia memang selalu men coba mencari benda yang nilainya stabil, terstandarisasi, yang bisa mengukur nilai barang danjasa secara akurat.

Walau barter merupakan interaksi yang terjadi di masa lampau, toh praktik-praktik barter masih terjadi di masa sekarang. Sebagai contoh, perusahaan minyak menukar minyak hasil sulingan kepada perusahaan besi sebagai bahan bakar. Sebaliknya, perusahaan besi memberikan pipa baja kepada perusahaan minyak untuk melakukan pengeboran. Walau transaksi tersebut dicatat dan dilaporkan dalam unit moneter (uang), praktik barter tetap saja terjadi.

Dengan berkembangnya praktik semacam itu, tentu tidak sulit dibayangkanbila suatu saat nanti bentuk fisik uang (kertas dan koin) akan lenyap dalam beberapa waktu mendatang. Apalagi, manusia saat ini telah terbiasa bertransaksi dengan menggunakan kartu debit atau kartu kredit. Dalam konteks ini, transaksi yang terjadi merupakan barter tetapi dalam kerangka kuasi imajiner “barter rupiah”.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Dampak Ditemukannya Uang

Dampak lain dari ditemukannya uang adalah: uang memungkinkan manusia untuk melakukan kegiatan konsumsi, menabung, meminjam uang, atau berinvestasi. Lompatan kuantum ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya uang. Dengan uang, manusia tak lagi menyimpan barang komoditas untuk masa depan, melainkan cukup menyimpan dalam bentuk uang (tabungan) yang tak akan lekang oleh waktu.

Manusia kini juga bisa “menyimpan janji” berupa utang. Hal ini dipelopori oleh pemerintah yang kemudian diikuti oleh perusahaan-perusahaan swasta. Contohnya, ratusan investor berabad-abad yang lalu mengumpulkan sejumlah uang untuk membiayai ekspedisi bangsa Portugis dan Spanyol ke Asia.

Saat ini, ruang lingkup, skala, maupun kemampuan pembiayaan tersebut telah jauh berkembang. Pasar uang dan pasar saham telah bermunculan di seluruh penjuru dunia. Uang kemudian hanya diterjemahkan sebagai sebuah informasi. Uang tak lebih dari seperangkat bit-bit dalam komputer.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Apalagi, transaksi keuangan modern terjadi secara elektronik dalam skala yang masif dan sangat cepat. Sejauh ini tidak (belum) ada alternatif untuk ekonomi uang (money economy) semacam ini. Yang ada hanyalah membuatnya lebih baik atau menjadikannya lebih buruk.

Ekonomi berbasis uang akan berkembang menjadi lebih baik: bila bertumpu pada produktivitas serta efisiensi. Uang yang digunakan haruslah stabil, memiliki kedudukan yang tinggi, menggambarkan informasi secara akurat, sehingga memungkinkan terwujudnya produktivitas dan kemakmuran yang lebih baik. Sayangnya, manusia tidak (belum) tahu terdiri atas apa uang yang stabil itu dan bagaimana cara untuk membuat serta memelihara stabilitas tersebut.

Kita tahu bahwa setiap kali terjadi hal-hal yang kurang baik, ada pihak-pihak tertentu yang diuntungkan oleh situasi tersebut. Wabah penyakit yang menular akan “menguntungkan” dokter dan rumah sakit. Adanya kriminalitas memberikan “kesempatan” kepada polisi dan aparat penegak hukum lainnya. Hal yang sama berlaku pula dalam ekonomi uang. Ketika situasi moneter kurang stabil atau terjadi devaluasi, pemerintah adalah pihak yang mendapatkan keuntungan.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Pemerintah dan Uang

Pemerintah adalah lembaga yang memiliki kemampuan sekaligus kemauan untuk memanipulasi uang demi kepentingannya. Pemerintah ada karena “persetujuan” dari rakyat yang dipimpinnya. Tanpa adanya “kontrak” tersebut, akan terjadi pembunuhan, perang saudara, kudeta militer, suksesi pemerintahan, chaos, dan sebagainya.

Oleh karena itu, uang sering sengaja “dimanipulasi” untuk kepentingan itu. Tentu saja situasinya sekarang jauh lebih kompleks karena tiap pemerintahan saling terhubung satu sama lain dalam berbagai bidang kepentingan yang beragam.

Tidaklah mudah melakukan manipulasi yang menguntungkan semua pihak (win-win solution). Sejarah telah mencatat begitu banyak krisis yang terjadi sebagai akibat dari kegagalan manipulasi tersebut. Sebut saja

  • Jerman di tahun 1920-an
  • negara-negara Amerika Latin di tahun 1970-an
  • Jepang di tahun 1990-an
  • Meksiko 1994
  • Indonesia, Thailand, Korea, dan Filipina di tahun 1997
  • Brasil dan Rusia tahun 1998
  • Turki tahun 2001
  • Argentina tahun 2002
  • dan masih banyak lagi

uang dan logam emas serta sejarahnya

Sebaliknya, mereka yang menerapkan ekonomi uang yang stabil tanpa adanya manipulasi justru meraih kejayaan. Raja Alexander (Iskandar Agung) yang menggunakan uang berupa koin perak berhasil menyatukan editerania dari wilayah kecil bemama Macedonia Julius Caesar muncul dan menjadi ikon kejayaan Romawi karena menggunakan standar emas di negerinya.

Alexander Hamilton dan George Washington sukses menyatakan kemerdekaan Amerika. Dan jadi peletak dasar untuk gold dollar yang kokoh dan disegani di masanya. Napoleon Bonaparte menjadi emperor Prancis setelah menerapkan tandar emas. Lenin dan Mao Tse-Tung merupakan contoh ikon lain yang muncul di negeri mereka karena memakai uang berbasis emas.

Berakhirnya Standar Emas di Amerika

Sayangnya, sejak tanggal 15 Agustus 1971, Richard Nixon sudah mengingkari perjanjian Bretton Woods mengenai uang yang stabil berbasis logam mulia (emas). Tanpa berkonsultasi dengan Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) maupun State Department terlebih dahulu. Nixon menutup “gold window” dengan menghentikan penggunaan standar emas (peg) bagi dolar mereka.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Semenjak dihapuskannya pegging tersebut, pasar foreign exchange (forex) tumbuh pesat. Instrumen seperti kontrak berjangka (currency futures) diperkenalkan dan memungkinkan mekanisme perdagangan (dan fluktuasi) mata uang terjadi di pasar terbuka. Siapa saja-tak hanya bank sentral-bisa membeli mata uang apa pun yang diminati.

Dolar AS menjadi rentan terhadap fluktuasi (floating), destabilisasi, bahkan krisis moneter (monetary chaos) karena dalam ekonomi modem uang tidak terkait dengan logam mulia seperti halnya pada perekonomian tradisional. Situasi ini sebenamya mengulangi kejatuhan poundsterling Inggris yang mengabaikan korelasi dengan emas di tahun 1914 dan 1931.

Pound yang saat itu merajai dunia kemudian surut pamornya dan diambil alih oleh dolar. Besar kemungkinan sejarah akan kembali terulang dan dolar menemui kejatuhannya secara perlahan namun pasti.

uang dan logam emas serta sejarahnya

Pada saat itulah logam mulia seperti emas akan menunjukkan keperkasaannya Sesaat setelah Nixon mengumumkan penghapusan pegging, harga emas langsung naik dari US$35 menjadi US$38 per troy ons. Pada tahun 1972, emas melonjak hingga US$50 per troy ons dan US$70 per troy ons satu tahun kemudian. Di tengah ketidakpastian moneter masa itu, harga emas secara meyakinkan terus melonjak naik hingga US$200 per troy ons di akhir tahun 1974 atau melompat sekitar empat kali lipat hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Hard Money

Zaman dulu uang yang beredar merupakan hard money, yaitu uang berbasiskan logam mulia (emas) yang stabil reliabel, tetap nilainya, dan tidak dapat diganggu gugat. Sementara uang yang beredar sekarang merupakan soft money yaitu :

  • uang yang dibentuk berdasarkan dari tujuan kebijakan jangka pendek,
  • berbasis pada penguasa (the rule of man),
  • tidak ada definisi yang jelas,
  • dimonopoli oleh pemerintah (atau swasta yang terafiliasi dengan pemerintah).

uang dan logam emas serta sejarahnya

Saat ini, praktis tidak ada lagi hard money yang tersisa. Inilah faktor yang membuat popularitas logam mulia menanjak drastis.

Selain uang dan logam emas, properti bisa jadi investasi yang menguntungkan.

Demikian info perihal uang dan logam emas serta sejarahnya, kami harap postingan uang dan logam emas serta sejarahnya kali ini membantu kawan-kawan semua. Kami berharap postingan investasi emas ini disebarluaskan agar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi :